TAHUN 2026 : THE YEAR OF THE GREAT COMMISSION

TAHUN AMANAT AGUNG

Matius 28:18-20 :

Yesus mendekati mereka dan berkata: ”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Tahun 2026 adalah Tahun Amanat Agung (The Year of The Great Commission)

  • Istilah “Amanat Agung” dipopulerkan oleh Hudson Taylor, seorang misionaris ke daratan China, pada abad ke-19. Hudson Taylor terkenal dengan kutipannya, “Amanat Agung bukanlah sebuah pilihan untuk dipertimbangkan, melainkan sebuah perintah untuk ditaati”.
  • Yang dimaksud dengan “Amanat” bukanlah sekedar perintah, tetapi suatu perintah pengutusan yang diperlengkapi dengan kuasa dan otoritas ilahi, sesuai dengan perkataan Yesus dalam Matius 28:18-19,}}

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.”

Setiap kali kita berbicara tentang Amanat Agung, maka kita diingatkan tentang target tahun 2033.

Sebenarnya ada apa dengan tahun 2033?

Tahun 2033 adalah:

  • Peringatan 2000 tahun Tuhan Yesus disalibkan, mati, bangkit, naik ke surga.
  • Peringatan 2000 tahun pencurahan Roh Kudus yang berarti hari ulang tahun gereja yang ke-2000.
  • Peringatan ke 2000 tahun dimulainya Amanat Agung.

Beberapa tahun terakhir ini, Tuhan berbicara kepada gereja-Nya. Banyak organisasi-organisasi, aliran-aliran Kekristenan yang mempunyai visi yang sama yaitu target penyelesaian Amanat Agung tahun 2033.

Matius 24:14 :

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya."

Dengan perkataan lain kalau Amanat Agung selesai maka sesudah itu barulah Tuhan Yesus datang yang kedua kali.

Kata “sesudah itu” tidak ada seorang pun yang tahu itu kapan. Bisa 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun atau beberapa tahun. Yang jelas tidak akan lama. Mengapa? Sebab Tuhan Yesus berkata, “Aku datang segera”

Kalau Tuhan Yesus memberikan target penyelesaian Amanat Agung tahun 2033 bagi gereja-Nya, artinya tinggal 7 tahun lagi. Saya tidak berkata, sekali lagi saya tidak berkata bahwa tahun 2033 Tuhan Yesus pasti datang. Ini tidak alkitabiah. Tetapi kalau dikatakan tahun 2033 Tuhan Yesus bisa datang, ini alkitabiah karena kedatangan-Nya bisa sewaktu-waktu.

Saya mau mengajak kita semua agar semakin hidup intim dengan Tuhan. Banyak berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dan terus berjaga-jaga.

Saya akan ingatkan bahwa sesuai dengan Roma 8:29goal kita sebagai orang percaya adalah menjadi serupa dengan gambar-Nya, artinya menjadi murid Kristus.

Untuk bisa menjadi murid Kristus kita harus melakukan seperti apa yang terdapat dalam 1 Yohanes 2:6 yang berkata,

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Kalau kita hidup sama seperti Kristus telah hidup maka kita serupa dengan gambar-Nya, artinya menjadi murid Kristus.

Tugas utama dari murid Kristus adalah menjadikan semua bangsa murid Kristus, artinya menyelesaikan Amanat Agung. Hal ini sesuai dengan Matius 28:18-20.

Strategi penyelesaian Amanat Agung

Sebagai murid-murid yang menerima Amanat Agung dari Tuhan Yesus, kita harus belajar cara Yesus melakukannya, sehingga kita bisa menjangkau dunia dalam 7 tahun ke depan sampai tahun 2033.

General Assembly yang ke-14 dari World Evangelical Alliance (WEA) di Korea Selatan tanggal 27-30 Oktober 2025 yang lalu, temanya adalah: “The Gospel for Everyone by 2033”. Sebuah visi global bahwa Injil akan dijangkau ke semua orang dan semua bangsa hingga tahun 2033.

Di sini Rick Warren menyampaikan tentang metode Yesus untuk menyelesaikan Amanat Agung yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Metode ini disingkat dengan P-E-A-C-E.

  • P = Pass on the good news (Sampaikan kabar baik (Injil) kepada orang lain).
  • E = Equip disciples (Perlengkapi para murid agar mereka bisa bertumbuh dan melayani).
  • A = Alleviate suffering (Ringankan penderitaan orang lain dengan menolong mereka).
  • C = Continually pray (Berdoa terus-menerus).
  • E = Establish new churches (Dirikan gereja-gereja baru).

Perlu digarisbawahi bahwa kita harus melakukan semuanya ini seperti Tuhan Yesus melakukannya agar Amanat Agung selesai.

Supaya kita bisa melakukan seperti Yesus melakukan sehingga Amanat Agung selesai, maka kita harus memiliki sifat atau karakter yang benar sebagai murid Kristus.

SEKRETARIAT

Jl. Veteran No. 8A Malang- Belakang TransMart
(Ex Royal ATK)

Phone

(0341) 327000

EMail

gbi.suropati.malang @gmail.com

Facebook

gbisuropati

Instagram

@gbisuropati

Youtube

GBI Suropati Malang

Whatsapp Center

0813.9007.8500

Youtube

Suropati Worship 2 Official

TikTok

@gbisuropati

TEOLOGI KEMAKMURAN, BENAR SALAH.jpeg

RENUNGAN KHUSUS

 

TEOLOGI KEMAKMURAN, BENAR/SALAH?

 

MENGENAI TEOLOGIA KEMAKMURAN

“Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan Allahmu,

sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud untuk menegakkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.”

Ulangan 8: 18

 

Seringkali kita dengan serta merta menuduh seseorang, suatu gereja, atau suatu pelayanan menganut Teologi Kemakmuran. Yang pertama-tama harus diperjelas ialah; apakah yang dimaksudkan dengan “Teologi Kemakmuran” tersebut? Di dalam pengertian kontemporer, Teologi Kemakmuran berkaitan erat dengan pengajaran Pemikiran Baru (New Thought Movement) dipelopori oleh Phineas Quimby, yang kemudian berkembang menjadi

  • Christian Science dibawah Mary Baker Eddy,
  • Positive Confession oleh E.W. Kenyon, dan
  • Word of Faith Movement, yang terkenal dengan Rhema Bible College, dibawah Kenneth E. Haggin.

 

Esensi-esensi utama pengajaran ini antara lain adalah:

  1. Tuhan menginginkan anak anak-Nya berhasil.
  2. Korban Penebusan Yesus di kayu salib yang bersifat substitusional, maka sekarang sakit penyakit, kemiskinan, dan penderitaan tidak memiliki tempat lagi dalam kehidupan orang percaya yang sungguh-sungguh beriman.
  3. Kita berhak untuk meng’klaim’ apa saja yang kita inginkan, karena seluruh kekayaan Allah tersedia bagi kita di dalam Kristus.

 

Insan Pentakosta agak sulit di dalam memberikan suatu kritisi yang terlalu memukul rata

(generalisasi) pengajaran ini. Tidak semua gerakan yang mewartakan kemakmuran/berkat Tuhan dapat begitu saja dilabeli sebagai ‘teologi kemakmuran’. Gerakan Pentakosta terlahir sebagai gerakan yang menjunjung karya praksis Roh Kudus dalam membebaskan manusia dari dosa, dan juga akibat dosa. Kebenaran ini bukan hanya dipahami secara abstrak, dalam legal sense, bahwa kita kelak akan menyambut kekekalan di sorga karena status kita sudah berubah menjadi orang yang dibenarkan oleh korban Kristus, melainkan juga pada zaman sekarang kita sudah mulai mengalami ’kuasa-kuasa dunia yang akan datang’ (Ibrani 6:5 ’powers of the age to come’, ESV), artinya kita telah melihat mujizat-mujizat sebagai perwujudan kecil dari kuasa Kerajaan Allah (Ibrani 2:4).

 

Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang pertumbuhan lalang dan gandum menjelang akhir zaman. Dimana ada anak-anak Tuhan sejati yang bertumbuh dan bermultiplikasi, disitu pula si musuh akan membangun ‘tiruan’nya (Matius 13:24-30). N.T. Wright, seorang ahli Perjanjian Baru dari gereja Anglikan mengatakan: “idolatry is always a caricature of the truth”. Yang dimaksudkannya adalah, setiap bentuk berhala dan penyembahan berhala, selalu mulai dari suatu pernyataan yang benar, tetapi kemudian dibesar besarkan diluar proporsi yang sepatutnya; dibandingkan dengan kebenaran yang lain.

 

MENELAAH 3 (TIGA) AJARAN UTAMA TEOLOGIA KEMAKMURAN

Jika  kita meneliti satu persatu dari tiga pernyataan tersebut, maka kita dapat melihat banyak dukungan dasar dasar Alkitab tentang pernyataan tersebut.

 

1. ALLAH MENGINGINKAN SEMUA ANAK-ANAK-NYA BERHASIL

Kalimat ini tidak salah dalam diri nya sendiri (not wrong in and of itself).

Yosua 1:8 mengatakan:

“Janganlah engkau lupa memperkatakan Kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau berhati hati sesuai dengan segala yang tertulis didalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung,”

a. Pengertian tentang ‘Keberhasilan’

Keberhasilan adalah selalu diukur dari pelaksanaan kehendak Tuhan. Di dalam hal ini, kita harus melihat bahwa kehendak Tuhan secara makro haruslah ditempatkan diatas kehendak Tuhan secara mikro, artinya rencana besar Allah untuk menyelamatkan dunia (missio dei) haruslah menjadi penuntun bagi rencana pribadi kita.

Di dalam kasus Yosua, dikatakan bahwa ia akan berhasil dalam perjalanannya. Berarti ia akan berhasil memimpin bangsa Israel masuk ke Negeri Perjanjian. Jelas terlihat bahwa sukses material bukanlah menjadi tolok ukur utama dalam menilai keberhasilan.

  • Raja Salomo di dalam kehidupannya berhasil mengumpulkan semua yang diinginkan hatinya, baik kekayaan, ilmu pengetahuan, pengalaman, dan kesenangan, namun di akhir kehidupannya ia menyimpang jauh dari tujuan Allah atas hidupnya.
  • Rasul Paulus, sebaliknya, meninggalkan keberhasilan karir nya di dalam agama Yahudi, dan mengikuti panggilan Allah bagi dirinya untuk menjadi pemberita Injil bagi bangsa bangsa. Di dalam perjalanan kehidupannya, ia mengalami banyak kehilangan dan penderitaan, namun ia berhasil mengatasi semuanya itu dan menyelesaikan tujuan hidupnya yang diberikan oleh Tuhan.

Manakah diantara kedua orang ini yang disebut memiliki kehidupan yang berhasil secara jangka panjang? Tentu jawabannya adalah Rasul Paulus. Ia menjadi orang yang sangat berguna bagi Kerajaan Allah dan diakui sebagai pribadi yang paling berjasa di dalam meletakkan dasar dasar peradaban Barat.

b. Caranya Keberhasilan itu terjadi dalam Hidup Kita

Ayat ini jelas mengatakan bahwa kita bukan hanya harus ‘merenungkan’ Firman Tuhan, juga harus ‘memperkatakan’, tetapi pada akhirnya, harus ‘melakukan’ Firman Tuhan itu di dalam kehidupan bisnis dan profesi kita.

Teologia Kemakmuran memang benar dalam mengajarkan bahwa kita harus memenuhi pikiran kita dengan Firman Tuhan, dan ‘memperkatakan’ Firman; namun Firman yang diperkatakan haruslah Firman yang dipahami secara benar. Juga pada akhirnya, semua kekayaan adalah hasil dari pekerjaan (all wealth is the result of work).

Kita tetap harus bekerja dan bekerja sesuai dengan hukum Kristus yang sudah Tuhan tetapkan, antara lain;

  • Menghormati Tuhan dengan mengembalikan milik Tuhan
  • Memperlakukan rekan kerja, atasan, bawahan, klien, dengan kejujuran dan integritas
  • Taat kepada hukum yang berlaku di negeri dimana kita beroperasi, dan lain sebagainya

 

2. KORBAN PENEBUSAN KRISTUS DI KAYU SALIB BERSIFAT SUBSTITUSIONAL

Pemahaman teologia kemakmuran akan hal ini adalah bahwa sekarang sakit penyakit, penderitaan, dan kemiskinan tidak lagi memiliki tempat di dalam kehidupan seorang percaya yang sungguh sungguh. Pernyataan ini jelas harus dimengerti dan ditempatkan dalam konteks dan proporsi yang tepat. Sebagai Insan Pentakosta, kita harus bisa menempatkan dua kenyataan besar ini di dalam suatu ‘tensi yang kreatif’ yang juga sudah dicontohkan dalam kehidupan gereja mula mula.

  • Para Rasul dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus dan mereka melakukan mujizat, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan setan (Kisah Para Rasul 5:12-16).
  • Namun disisi lain; dalam perjalanan hidup gereja mula mula, mereka mengalami aniaya, penderitaan, oposisi, sebagai bagian dari hidup mereka.

Sebagian besar dari mereka mengalami perlindungan dan kelepasan, namun ada pula yang menjadi martir demi iman mereka. Para Rasul sendiri banyak yang mengalami:

  • sakit penyakit dan kelemahan tubuh (2 Korintus 12:9-10)
  • kekurangan secara finansial (Filipi 4:12; 2 Korintus 11:9)
  • tragedi (2 Korintus 11:25)

Sebagai Insan Pentakosta, kita dapat melihat pola yang lebih besar jika kita menggabungkan perjalanan hidup bangsa Israel di padang gurun (Ulangan 8:1-5) dengan perjalanan Gereja mula-mula. Tuhan mengizinkan kita melewati ‘padang gurun’ (kesulitan/penderitaan) untuk:

  • menjaga kita tetap berharap pada-Nya.
  • menjaga hati kita berjarak terhadap godaan kenikmatan dan kesenangan dunia.
  • memurnikan motivasi hati kita.

Pada masa kini, sebelum kedatangan Tuhan Yesus kedua kali untuk mendirikan kerajaan-Nya diatas muka bumi ini, penderitaan tetap dapat dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan Tuhan. Itulah sebabnya Insan Pentakosta menjunjung tinggi peranan Roh Kudus sebagai oknum ketiga dalam Tritunggal yang berfungsi sebagai:

  • Jalur Komunikasi dan Persekutuan, yang selalu membawa hadirat Yesus kepada komunitas orang percaya,
  • Dialah Agen Pemberdayaan yang memberi kuasa untuk menang dalam menghadapi semua tantangan,
  • Sekaligus juga sebagai Sang Penghibur yang memberi kekuatan di dalam menghadapi berbagai macam penderitaan yang dihadapi.

 

3. MENGKLAIM APA SAJA YANG KITA INGINKAN

Frasa meng-‘klaim’ apa saja yang kita inginkan, karena semua kekayaan Allah tersedia bagi kita di dalam Kristus” harus ditempatkan pada konteks dan proporsi yang tepat.

“dan bergembiralah karena Tuhan, maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu...”.

Mazmur 37:4

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus...”.

Filipi 4:19

Para penganut Teologi Kemakmuran mengambil kedua ayat ini sebagai dasar dari pengajaran mereka untuk ‘Menyebutkan dan Mengklaim’ apa yang kita inginkan (name it and claim it).

Padahal sebenarnya makna dari Mazmur 37:4 adalah tentang pengabulan keinginan dan kerinduan yang lahir dalam hati orang yang sudah memperoleh kebahagiaan, sukacita dan kepuasannya di dalam Tuhan. Sama sekali bukan tentang orang keinginan orang yang sedang lapar dan haus akan hal-hal keduniawian. Dan makna dari Filipi 4:19 berbicara tentang pemenuhan keperluan kita, sama sekali bukan tentang pemenuhan keinginan manusiawi kita.

Pengaruh dari ‘Pemikiran Baru’ terlihat di dalam dua point yang sering muncul dalam naratif Teologi Kemakmuran.

a. Pengajaran “Little Gods” (Yohanes 10:34)

Disini Tuhan Yesus sedang mengutip Mazmur 82:6. Dalam konteks ini, Yesus sedang menunjukkan bahwa klaim-Nya sebagai Anak Allah (The Son of God) tidaklah absurd karena di dalam Mazmur, meskipun itu hanya sebagai suatu ‘gaya bahasa’ (literary device).

Allah tidak menyangkal bahwa karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, maka sebutan ‘anak-anak Allah’ (children of God/ children of the Most High) tetap dapat disandang oleh manusia, bahkan ketika manusia itu berbuat jahat, seperti dalam kasus Mazmur 82 tadi.

Kesalahan fatal dari penganut Teologia Kemakmuran/Pola Pemikiran baru ini adalah; mereka tidak dapat membedakan bahwa ketika Tuhan berkata bahwa Ia ‘memperanakkan’;

  • baik kepada ‘Sang Putra’ (God the Son: Pribadi kedua ketritunggalan),
  • maupun kepada manusia secara umumnya.

Disini Dia sedang menggunakan bahasa puitis, bukan sedang menunjukkan realita yang sebenarnya terjadi.

Para pendukung pengajaran ini selalu berkata, “like begat like”, sesuatu pasti akan ‘melahirkan’ sesuatu yang sama/satu hakikat dengannya. Kucing tidak mungkin melahirkan anjing. Tuhan Yesus sedang memberikan ‘hermeneutika’ yang benar dan proporsional; Ya, bahkan manusia pun bisa disebut ‘anak anak Allah’ karena semua manusia membawa ‘gambar dan rupa Allah’, padahal manusia tidaklah mengandung ‘esensi Allah’.

Implikasi lanjutan dari pengajaran ini adalah di dalam point berikut dibawah ini.

 

b. “Power to create”

Allah adalah pencipta. Itulah yang dilakukan-Nya pertama kali. Allah menciptakan langit, bumi, dan semua yang ada didalamnya. Kata ‘mencipta’ dalam bahasa Ibrani ‘Bara’ adalah kata yang eksklusif; dikenakan hanya kepada Allah. Hanya Dia yang bisa menciptakan ‘ex nihilo’ (dari ketidak beradaan menjadi ada).

Inilah yang dipakai oleh pengajar Teologi Kemakmuran yang mendorong pengikutnya untuk ‘memvisualisasikan’ apa yang diinginkan dan ‘memperkatakan’ ‘rhema’ yang didapatkan dari Tuhan untuk ‘menciptakan’ barang yang mereka inginkan. Hal ini jelas merupakan kesalahan hermeneutika yang berbahaya jika ditindak lanjuti lebih jauh.

Seperti kita pernah menghadapi bahaya pengajaran ‘Hypergrace’ yang merupakan bentuk ketidak- seimbangan dan ketidak-proporsionalan mengenai Soteriologi, maka Teologia Kemakmuran dapat dilihat juga sebagai sebuah bentuk ketidak seimbangan dalam Pneumatologia Praxis. Alkitab dengan jelas memberikan kepada kita konteks yang luas supaya kita dapat menempatkan pengajaran mengenai kemakmuran secara proporsional dengan aman.

Ulangan pasal 7-9 adalah summary dari perjalanan bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun dan memberikan kepada kita beberapa petunjuk untuk menangani masalah ‘kekayaan’:

 

1. Tidak mengidentifikasikan diri kita berdasarkan kekayaan kita

“bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu, bukankah kamu ini bangsa yang paling kecil dari segala bangsa?”

Ulangan 7:7

Seringkali harga diri dan identitas kita di dalam masyarakat ditentukan oleh harta kekayaan kita. Kita seringkali merasa inferior jika berada di tengah tengah orang yang lebih kaya dari kita, dan merasa superior jika berada di tengah tengah orang yang lebih miskin dari kita. Firman Tuhan dengan jelas mengajarkan bahwa Tuhan-lah sebagai pencipta kita yang menentukan harga diri kita. Kita adalah mulia dan berharga di mata-Nya.

2. Tidak Mencari Kenikmatan Kita dari Kekayaan

“hati hatilah supaya jangan engkau melupakan Tuhan Allahmu dengan tidak berpegang pada perintah dan ketetapanNya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini...”

Ulangan 8: 11

Inilah yang menyebabkan kejatuhan raja Salomo. Ketika kekayaannya semakin bertambah banyak, ia mulai melupakan kenikmatan persekutuan dengan Tuhan dan mulai mencari kenikmatannya dari kesenangan duniawi sebagai buah dari keberhasilannya.

Tidaklah salah jika kita menikmati ‘entertainment’ yang ditawarkan oleh dunia ini (makanan, minuman, belanja, travel, music dan film), itupun di dalam batasan dan proporsi yang wajar. Yang harus kita perhatikan adalah, dimana kita menemukan kenikmatan (enjoyment) dan kepuasan (satisfaction) kita. Pada saat kita mulai menaruh enjoyment dan satisfaction kita kepada perkara perkara duniawi, maka kita sudah mulai masuk kepada pengejaran yang salah (wrong pursuit) dan kita akan terhilang dari rencana Tuhan atas hidup kita.

3. Tidak menaruh kekuatan kita pada kekayaan

“maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tanganku lah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini...”

Ulangan 8:17

Uang seringkali membawa ilusi kendali dan kekuatan kepada orang yang memilikinya. Uang seringkali dapat membelokkan rasa keadilan (sense of justice) seseorang, dan membuat orang yang memilikinya merasa lebih berkuasa dari orang lain.

4. Tidak mencari tujuan hidup dari kekayaan

Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan (Matius 6:24, Lukas 16:13).

Mammon adalah personifikasi uang dan kekayaan yang memiliki kuasa untuk ‘memanggil’ manusia mengikuti/melayani dia, sebagaimana layaknya juga Tuhan.

Ulangan 8:18 dengan jelas berkata bahwa Tuhan-lah yang memberi kekuatan untuk menghasilkan kekayaan dengan maksud untuk menegakkan perjanjian yang telah diikrarkannya dengan sumpah kepada nenek moyang Israel. Hal ini mengacu kepada Perjanjian Abraham (Abahamic Covenant- Kejadian 12:2-3) yang didalamnya terkandung berkat; bukan hanya bagi Israel, tetapi supaya melalui Israel, semua kaum (Mispachah dalam bahasa Ibrani; Ethne dalam bahasa Yunani) juga dapat diberkati.

Galatia 3:16 menunjukkan bahwa ‘keturunan Abraham’ yang akan menjadi berkat bagi seluruh ‘kelompok etnis’ di dunia ini sesungguhnya adalah Tuhan Yesus Kristus. Di dalam bahasa Perjanjian Baru, kita dapat mengatakan bahwa tujuan Allah memberkati kita adalah supaya kita, Gereja-Nya dapat menjadi saluran berkat bagi sesama dan menyelesaikan Perjanjian Allah kepada Abraham; yang digenapi dalam Amanat Agung Tuhan Yesus; yaitu untuk kita pergi dan menjadikan segala bangsa murid-Nya.

Dengan memperhatikan konteks dan parameter tersebut diatas, maka kita dapat mengatakan bahwa pengajaran Teologi Kemakmuran, terutama dalam konteks Amerika Serikat (beberapa nama yang tersebut diatas, juga beberapa yang kontemporer seperti Kenneth Copeland, Jesse DuPlantis, John Avanzini, Creffo Dollar) adalah teologi yang kekanak kanakan (Infantile Theology) yang:

  • terlalu menekankan hak, dan
  • melupakan tanggung jawab.

Tuhan tidak terlalu kuatir tentang seberapa banyak harta yang kita miliki lebih daripada Ia menguatirkan apakah harta itu memiliki (hati) kita. Ditempatkan pada proporsi yang tepat, harta kekayaan adalah alat yang efektif untuk kita menyelesaikan pekerjaan Tuhan, yaitu Amanat Agung Tuhan Yesus, namun jika tidak dikuasai dengan baik, uang/Mammon akan menyeret kita meninggalkan panggilan Tuhan, dan pada akhirnya akan membinasakan kita.


BCA 440 503 7000

Rek. Syukur & Persepuluhan
An. GBI Suropati

BCA 440 3333 070

Rek. DIAKONIA & Misi
An. GBI Suropati

BCA 440 7777 033

Rek. Pembangunan
An. GBI Suropati

BCA 440.872.0000

Rek. NATAL
An. Afen Hardiyanto / Melinda E.