TAHUN 2026 : THE YEAR OF THE GREAT COMMISSION

TAHUN AMANAT AGUNG

Matius 28:18-20 :

Yesus mendekati mereka dan berkata: ”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Tahun 2026 adalah Tahun Amanat Agung (The Year of The Great Commission)

  • Istilah “Amanat Agung” dipopulerkan oleh Hudson Taylor, seorang misionaris ke daratan China, pada abad ke-19. Hudson Taylor terkenal dengan kutipannya, “Amanat Agung bukanlah sebuah pilihan untuk dipertimbangkan, melainkan sebuah perintah untuk ditaati”.
  • Yang dimaksud dengan “Amanat” bukanlah sekedar perintah, tetapi suatu perintah pengutusan yang diperlengkapi dengan kuasa dan otoritas ilahi, sesuai dengan perkataan Yesus dalam Matius 28:18-19,}}

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.”

Setiap kali kita berbicara tentang Amanat Agung, maka kita diingatkan tentang target tahun 2033.

Sebenarnya ada apa dengan tahun 2033?

Tahun 2033 adalah:

  • Peringatan 2000 tahun Tuhan Yesus disalibkan, mati, bangkit, naik ke surga.
  • Peringatan 2000 tahun pencurahan Roh Kudus yang berarti hari ulang tahun gereja yang ke-2000.
  • Peringatan ke 2000 tahun dimulainya Amanat Agung.

Beberapa tahun terakhir ini, Tuhan berbicara kepada gereja-Nya. Banyak organisasi-organisasi, aliran-aliran Kekristenan yang mempunyai visi yang sama yaitu target penyelesaian Amanat Agung tahun 2033.

Matius 24:14 :

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya."

Dengan perkataan lain kalau Amanat Agung selesai maka sesudah itu barulah Tuhan Yesus datang yang kedua kali.

Kata “sesudah itu” tidak ada seorang pun yang tahu itu kapan. Bisa 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun atau beberapa tahun. Yang jelas tidak akan lama. Mengapa? Sebab Tuhan Yesus berkata, “Aku datang segera”

Kalau Tuhan Yesus memberikan target penyelesaian Amanat Agung tahun 2033 bagi gereja-Nya, artinya tinggal 7 tahun lagi. Saya tidak berkata, sekali lagi saya tidak berkata bahwa tahun 2033 Tuhan Yesus pasti datang. Ini tidak alkitabiah. Tetapi kalau dikatakan tahun 2033 Tuhan Yesus bisa datang, ini alkitabiah karena kedatangan-Nya bisa sewaktu-waktu.

Saya mau mengajak kita semua agar semakin hidup intim dengan Tuhan. Banyak berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dan terus berjaga-jaga.

Saya akan ingatkan bahwa sesuai dengan Roma 8:29goal kita sebagai orang percaya adalah menjadi serupa dengan gambar-Nya, artinya menjadi murid Kristus.

Untuk bisa menjadi murid Kristus kita harus melakukan seperti apa yang terdapat dalam 1 Yohanes 2:6 yang berkata,

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Kalau kita hidup sama seperti Kristus telah hidup maka kita serupa dengan gambar-Nya, artinya menjadi murid Kristus.

Tugas utama dari murid Kristus adalah menjadikan semua bangsa murid Kristus, artinya menyelesaikan Amanat Agung. Hal ini sesuai dengan Matius 28:18-20.

Strategi penyelesaian Amanat Agung

Sebagai murid-murid yang menerima Amanat Agung dari Tuhan Yesus, kita harus belajar cara Yesus melakukannya, sehingga kita bisa menjangkau dunia dalam 7 tahun ke depan sampai tahun 2033.

General Assembly yang ke-14 dari World Evangelical Alliance (WEA) di Korea Selatan tanggal 27-30 Oktober 2025 yang lalu, temanya adalah: “The Gospel for Everyone by 2033”. Sebuah visi global bahwa Injil akan dijangkau ke semua orang dan semua bangsa hingga tahun 2033.

Di sini Rick Warren menyampaikan tentang metode Yesus untuk menyelesaikan Amanat Agung yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Metode ini disingkat dengan P-E-A-C-E.

  • P = Pass on the good news (Sampaikan kabar baik (Injil) kepada orang lain).
  • E = Equip disciples (Perlengkapi para murid agar mereka bisa bertumbuh dan melayani).
  • A = Alleviate suffering (Ringankan penderitaan orang lain dengan menolong mereka).
  • C = Continually pray (Berdoa terus-menerus).
  • E = Establish new churches (Dirikan gereja-gereja baru).

Perlu digarisbawahi bahwa kita harus melakukan semuanya ini seperti Tuhan Yesus melakukannya agar Amanat Agung selesai.

Supaya kita bisa melakukan seperti Yesus melakukan sehingga Amanat Agung selesai, maka kita harus memiliki sifat atau karakter yang benar sebagai murid Kristus.

SEKRETARIAT

Jl. Veteran No. 8A Malang- Belakang TransMart
(Ex Royal ATK)

Phone

(0341) 327000

EMail

gbi.suropati.malang @gmail.com

Facebook

gbisuropati

Instagram

@gbisuropati

Youtube

GBI Suropati Malang

Whatsapp Center

0813.9007.8500

Youtube

Suropati Worship 2 Official

TikTok

@gbisuropati

KEDAULATAN TUHAN DAN KEHENDAK BEBAS MANUSIA.jpg

RENUNGAN KHUSUS

 

KEDAULATAN TUHAN DAN KEHENDAK BEBAS MANUSIA

 

Apakah kehendak bebas manusia melawan kedaulatan Tuhan? Kehendak bebas adalah kemampuan manusia untuk memilih, menimbang dan membuat sebuah keputusan. Tuhan memberikan kehendak bebas, ketika menciptakan manusia dengan firman: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” (Kejadian 1:26). Bukti bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan dengan kualitas “segambar” dan “serupa” dengan Tuhan, Allah Sang Pencipta, adalah manusia diberi akal budi untuk berpikir dan menimbang-nimbang keputusan. Manusia tidak diciptakan bagai sebuah robot atau mesin yang hanya beroperasi sesuai dengan tombol-tombol ataupun perintah-perintah dari “sang operator”. Waktu menghadapi banyak pilihan, sebagai makhluk berakal budi, manusia dilatih untuk dapat menimbang-nimbang segala pilihan-pilihan itu, inilah yang disebut dengan kehendak bebas.

 

Di Taman Eden ada berbagai jenis pohon, yaitu pohon-pohon yang buahnya bisa dimakan, pohon kehidupan dan pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat (Kejadian 2:16-17). Pohon pengetahuan yang baik dan jahat tidak dilenyapkan dari taman Eden oleh Tuhan sebagai bukti bahwa Allah menghargai kehendak bebas manusia. Manusia diajar untuk bertanggung jawab dengan pilihan yang dibuatnya, karena ada konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.

 

Tuhan yang Maha Berdaulat menciptakan manusia dengan memiliki kehendak bebas (kemerdekaan) dalam memilih, sebagai cerminan pemberian kedaulatan Tuhan bagi manusia dalam porsi yang terbatas. Kehendak bebas manusia sama sekali tidak dapat melunturkan Kemahakuasaan dan Kedaulatan Tuhan.

 

Mengenai kemerdekaan/kebebasan manusia, ada peringatan keras dalam Galatia 5:13. Walaupun manusia dipanggil untuk hidup dalam kemerdekaan, jangan sampai kehendak bebas itu digunakan untuk hidup dalam dosa yang dapat merusak kehidupan manusia itu sendiri. Sebaliknya, kemerdekaan itu hendaknya dipakai untuk dapat melayani/membangun satu dengan lainnya atas dasar kasih sesuai dengan kehendak Tuhan.

 

Barry Schwartz, lewat Paradox of Choice menyatakan bahwa ada dua jenis kebebasan atau kemerdekaan:

  • Kebebasan Negatif (Negative Freedom): adalah bebas dari perintah dan aturan. Dengan bebas dari perintah dan aturan, manusia menjadi makhluk liar.
  • Kebebasan Positif (Positive Freedom): adalah suatu keadaan dimana manusia dengan kebebasan yang dimiliki memilih untuk melakukan isi perintah dan aturan yang dapat memaksimalkan potensi manusia.

 

Bila manusia yang diciptakan dengan memiliki kehendak bebas menggunakan kebebasannya secara negatif, manusia menjadi bebas sebebas bebasnya, tanpa aturan, tanpa hukum, tanpa etika, tanpa moral, tanpa mempertimbangkan hak dan kewajiban sesamanya; dan manusia akan menjadi makhluk yang liar.

 

Tapi bila manusia yang memiliki kehendak bebas menggunakan kebebasannya untuk memilih yang baik dan benar, maka lewat pilihannya itu, ia dapat memaksimalkan potensi dirinya sendiri dan juga potensi orang lain, sehingga apa yang sudah dirancangkan oleh Allah Sang Pencipta dapat dicapai secara penuh.

 

Penjelasan Barry Schwartz dapat membantu menjawab, mengapa Tuhan “membiarkan” pohon tersebut tetap berada di dalam taman Eden. Tuhan menghendaki manusia menggunakan kehendak bebasnya untuk menaati kehendak Tuhan. Sehingga Allah melihat bahwa manusia mengikuti kehendak-Nya bukan karena tidak ada pilihan lain, melainkan dengan sadar memilih untuk taat akan perintah Tuhan. Inilah tujuan Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia, di tengah-tengah segala pilihan yang ada, manusia tetap dapat menaati kehendak Tuhan. Sayangnya, manusia gagal, keliru menggunakan kehendak bebasnya, sehingga jatuh ke dalam dosa. Padahal, jika manusia memilih untuk taat kepada Tuhan, rencana Tuhan akan digenapi dengan sempurna (Kejadian 1:28).

 

Tuhan Tetap Bekerja Diatas Kehendak Bebas Manusia

Roma 8:28, Allah turut bekerja dalam “segala sesuatu”, termasuk di dalamnya adalah kehendak bebas manusia. Allah dapat menunjukkan kedaulatan-Nya dalam kehendak bebas manusia.

 

Kisah Perjalanan Hidup Yusuf (Kejadian 37)

Waktu saudara-saudara Yusuf melihat bahwa Yakub lebih mengasihi Yusuf, bencilah mereka kepada Yusuf, dan kebencian kepada Yusuf bertambah, setelah Yusuf menceritakan mimpi-mimpinya kepada mereka. Akhirnya mereka berniat untuk membunuh Yusuf, tapi Ruben mengusulkan supaya Yusuf dimasukkan ke dalam sumur kering. Selanjutnya, tanpa sepengetahuan Ruben, mereka menjual Yusuf kepada rombongan orang Ismael yang sedang dalam perjalanan ke Mesir.

 

Kisah perjalanan hidup Yusuf sarat dengan penderitaan, dimulai dengan kedegilan saudara-saudara kandungnya, tipu daya istri Potifar, dan ketidaksetiaan darisahabat-sahabatnya di penjara; tapi berakhir dengan penuh kemenangan dan sukacita. Ia dipakai Tuhan untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan. Kejadian 50:20,

 

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

 

Ketika saudara-saudara Yusuf merancangkan yang jahat kepadanya, Tuhan tidak melakukan intervensi atas tindakan jahat mereka tapi Allah menggunakan perbuatan-perbuatan jahat saudara-saudara Yusuf tersebut untuk menjadi jalan bagaimana Allah memelihara sebuah bangsa yang besar.

 

Bagaimana Menggunakan Kehendak Bebas dengan Benar?

Yesus Kristus, dalam Yohanes 15:7 menyampaikan

 

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”

 

“Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”, terlihat betapa Tuhan juga tetap menghargai kehendak bebas manusia. Bagaimana supaya kehendak bebas manusia tidak dipakai sembarangan sehingga jatuh dalam dosa? Jawabannya adalah, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu”. Supaya tidak salah dalam menggunakan kehendak bebasnya, manusia harus betul-betul hidup melekat dengan Tuhan dan selaras dengan Firman Tuhan. Tuhan mengajarkan manusia untuk memiliki pengetahuan (cognitive) yang benar tentang Tuhan dan memiliki pengalaman hidup (affective) bersama dengan Tuhan sehingga manusia dapat menggunakan kehendak bebas” yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Filipi 2:5 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran (cognitive) dan perasaan (affective) yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”.

 

Galatia 5, supaya manusia tidak tersesat dalam kehendak bebasnya, harus hidup sesuai dengan pimpinan Roh Kudus, “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” (Galatia 5:16).

 

Berjalan dalam Kehendak Tuhan Tidak Selalu Mulus.

Pada tahun 1921, ada dua keluarga; David Flood dan Svea serta Joel Erickson dan Bertha; yang atas keinginan mereka sendiri berangkat menuju pedalaman Afrika untuk menginjil di sana. David dan Svea membawa serta David Jr, bayi pertama mereka yang berusia dua tahun. Dalam perjalanan itu, David Jr. terkena penyakit malaria. Waktu tiba di suatu desa, mereka tidak diizinkan untuk masuk desa itu, sehingga mereka mendirikan pondok dari lumpur yang berada di tepi luar desa dan tinggal menetap di sana.

 

Setelah beberapa bulan, mereka menderita kekurangan gizi parah dan jarang berhasil berhubungan dengan penduduk desa. Setelah lewat enam bulan, kedua keluarga ini berpikir untuk pulang. Keluarga Erickson memutuskan untuk kembali ke Swedia, tetapi karena Svea hamil, keluarga Flood tetap tinggal di desa itu. Saat itu, Svea pun terserang malaria dan sering mengalami demam, tetapi ia tetap memberikan bimbingan rohani kepada satu-satunya kontak mereka dengan penduduk lokal, seorang anak kecil dari penduduk desa tersebut.

 

Malaria membuat kondisi Svea terus memburuk di tengah-tengah kehamilannya. Ia berhasil melahirkan seorang bayi perempuan, tetapi setelah melahirkan, akhirnya ia meninggal dunia. Secara manusia, mereka gagal dalam melaksanakan apa yang menjadi kerinduan mereka untuk menjadi misionari di Afrika, bahkan David Flod harus kehilangan istrinya.

 

Tapi siapa yang menyangka bahwa seorang anak kecil yang membantu Keluarga Flod, satu-satunya penduduk asli yang berhasil dibimbing untuk menjadi pengikut Kristus akhirnya menjadi penginjil yang berhasil dan memimpin sebuah gerakan Pentakosta dengan 110.000 orang Kristen, 32 pos penginjilan, satu pusat sekolah Alkitab, dan rumah sakit dengan kapasitas 120 tempat tidur, nama orang itu adalah Ruhigita Ndagora.

 

Walaupun secara manusia mereka merasa gagal, bahkan harus kehilangan banyak hal, tapi Allah lewat Roh-Nya turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi 4 mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Tuhan Yesus memberkati kita semua.


BCA 440 503 7000

Rek. Syukur & Persepuluhan
An. GBI Suropati

BCA 440 3333 070

Rek. DIAKONIA & Misi
An. GBI Suropati

BCA 440 7777 033

Rek. Pembangunan
An. GBI Suropati

BCA 440.872.0000

Rek. NATAL
An. Afen Hardiyanto / Melinda E.